NUSAGAMA, BAGAIMANA MELEJITKAN SELURUH POTENSI KECERDASAN ANAK?

LEMBAGA KONSULTASI DAN BIMBINGAN BELAJAR (LKBB) MELAYANI KONSULTASI DAN BIMBINGAN UNTUK PENINGKATAN PRESTASI DAN MEMECAHKAN PROBLEM BELAJAR SISWA. FASILITAS SATU SISWA DENGAN SATU TENTOR, BAGI SISWA TK, SD, SMP, SLTA DAN UMUM.

BAGAIMANA MELEJITKAN SELURUH POTENSI KECERDASAN ANAK?

Oleh Hernowo

“Kini sedang tumbuh sebuah generasi baru yang akan mengubah dunia menjadi berbeda sama sekali dengan sebelumnya.”
DON TAPSCOTT, Growing Up Digital

Anak-anak kita akan hidup di zaman yang berbeda dengan zaman kita. Dunia terus-menerus berubah. Apa yang kita pikirkan saat ini belum tentu cocok dengan keadaan di masa datang. Kita, sebagai orangtua dan guru, tidak bisa hanya menggunakan pikiran kita untuk membawa anak-anak kita ke masa depan. Kita harus menggunakan pikiran masa depan kita dan juga pikiran mereka.

Dan…”multiple intelligences”, setidaknya, akan memberikan “peta” atau panduan kepada kita untuk menuju masa depan yang berbeda dengan masa sekarang.

“Multiple intelligences” atau kecerdasan majemuk pada dasarnya adalah sebuah konsep yang menunjukkan kepada kita bahwa potensi anak-anak kita, khususnya jika dikaitkan dengan kecerdasan, banyak sekali. Di kepala anak-anak kita minimal ada sembilan kecerdasan. Manfaat utama memahami “multiple intelligences” bukanlah untuk membuat anak-anak kita menjadi hebat. Namun konsep tersebut, paling tidak, dapat  membantu kita untuk menganggap (mempersepsi) bahwa anak-anak kita itu menyimpan potensi yang luar biasa.

Kesembilan kecerdasan itu adalah (1) word, (2) number, (3) picture, (4) music, (5) body, (6) self, (7) people, (8) nature, dan (9) existence smart. Yang (1) dan (2) biasanya dikenal dengan IQ, yang (6) dan (7) dikenal dengan EQ, dan yang (9) sering dipadankan dengan SQ.

Selama ini, ada kemungkinan, kita terlalu menganggap remeh anak-anak kita. Sebagai orang yang sudah dewasa dan kenyang makan asam garam kehidupan, kita lantas takabur bahwa anak-anak kita itu masih “hijau”, masih belum memiliki pengalaman yang kaya. Kita lantas memandang mereka sebagai manusia yang banyak memiliki kelemahan. Mungkin saja, pada saat tertentu, anak kita menunjukkan kelebihannya. Namun, kita senantiasa meletakkan kelebihan anak kita itu dalam banyak kelemahan mereka.

Akhirnya, anak-anak kita, mungkin hampir setiap hari, senantiasa kita salah-salahkan dan kita terus menganggap kekurangan mereka lebih banyak ketimbang kelebihan mereka.

“Multiple intelligences” benar-benar mengubah paradigma-lama yang menyesatkan itu. “Multiple intelligences” menawarkan seuah paradigma-baru dalam melihat anak-anak secara sangat radikal. Pertama, sekali lagi, mereka memiliki banyak sekali potensi. Kedua, ini yang mencengangkan, dalam “kenakalan” atau “kebandelan” mereka, yang kadang mengesalkan diri kita, tersimpan kelebihan-kelebihan mereka. Dan, ketiga, potensi mereka mencuat secara sangat bebas dan spontan.

Nah, bagaimana caranya agar seluruh potensi kecerdasan anak-anak kita itu dapat melejit secara hebat? Apa metode dan pendekatan yang dapat digunakan oleh para guru dan orangtua? Apakah ada strategi yang tepat untuk melejitkan semua kecerdasan itu?

Pertama, menurut konsep brain-based learning yang dirumuskan oleh Eric Jensen (lihat buku karya Jalaluddin Rakhmat, Belajar Cerdas: Belajar Berbasiskan Otak, MLC, 2005), kekuatan otak baru akan muncul secara dahsyat apabila kondisi seseorang itu berada dalam balutan emosi positif. Emosi positif adalah keadaan di mana seseorang itu berada dalam kenyamanan (bebas stres) dan senang (baca: bahagia).

Jadi, agar seorang anak itu dapat melejitkan seluruh kecerdasannya, dia harus bebas dari segala ancaman, tekanan, dan ketakutan. Kegiatan belajar-mengajar yang diselenggarakan harus memunculkan semangat dan gairah yang luar biasa. Ini bisa dideteksi dengan apakah mata anak itu berbinar-binar atau tidak. Lantas, apakah diri anak itu benar-benar terlibat di dalam kegiatan belajar tersebut atau tidak.

Kedua, menurut strategi pembelajaran bernama contextual teaching and learning (lihat buku karya Elaine B. Johnson, Contextual Teaching and Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar-Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna, MLC, 2006), agar anak didik terlibat dalam kegiatan belajar dan dapat melejitkan seluruh kecerdasannya, kegiatan belajar-mengajar tersebut harus menghadirkan makna.

Sesuatu itu menjadi bermakna apabila sesuatu itu penting dan berharga bagi diri pribadi anak didik. Jadi, apa pun materi yang ingin diajarkan kepada anak didik, materi itu harus terkait dengan pengalaman sehari-hari anak didik. Jika tidak terkait, maka kegiatan belajar itu bisa dikatakan hampa atau kosong akan makna. Dan apakah kemudian setiap pengalaman anak didik harus diperhatikan dan dikaitkan? Ya, manusia itu unik. Antara anak didik yang satu dengan anak didik yang lain itu tidak sama. Kebermaknaan belajar hanya akan muncul jika materi pelajaran disesuaikan dengan setiap keunikan anak didik.

Ketiga, menurut konsep “multiple intelligences” (lihat buku karya Laurel Schmidt, Jalan Pintas Menjadi Tujuh Kali Lebih Cerdas, Kaifa, 2004; Thomas Armstrong, Sekolah Para Juara: Menerapkan “Multiple Intelligences” di Dunia Pendidikan, Kaifa, 2005; dan Thomas R. Hoerr, Buku Kerja “Multiple Intelligences”, Kaifa, 2007), setiap kecerdasan bisa menjadi “jalan masuk” untuk membuat anak senang belajar dan memperoleh makna. Setiap anak, jika tidak cacat otaknya secara fisik, pasti dapat mengembangkan seluruh kecerdasan yang dimilikinya. Dan setiap anak, kadang, memiliki satu atau dua kecerdasan yang menonjol.

Jika anak-anak itu dapat kita layani—yaitu menemukan satu kecerdasannya yang menonjol dan kita menyampaikan materi pelajaran itu dengan menggunakan “jalur” kecerdasan menonjolnya itu—anak-anak itu akan sangat cepat belajarnya. Strategi melejitkan kecerdasan akan sangat efektif apabila kita dapat menerapkan konsep “multiple intelligences” ini. Hal ini disebabkan anak-anak akan dapat belajar secara alamiah, belajar dengan cara yang diinginkannya, apabila “multiple intelligences” ini dapat dioperasionalkan secara tepat dan benar.

Jadi, lewat ketiga cara dan strategi di atas, bukan saja IQ, EQ, dan SQ akan dapat dilejitkan; bahkan, seluruh kecerdasan anak dapat kita lejitkan.

Sumber : http://www.mizan.com/index.php?fuseaction=emagazine&id=5&fid=52, Accessed By Nusagama on 15 Januari 2008

2 Tanggapan to “NUSAGAMA, BAGAIMANA MELEJITKAN SELURUH POTENSI KECERDASAN ANAK?”

  1. Mr WordPress Says:

    Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

  2. nevatera Says:

    salam mas… tambah keren…salam buat mbaknya ya

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: