Kepedulian atas Pendidikan Lahirkan Manusia Unggul

Mei 22, 2011

Berbahagialah Anda yang memiliki pemimpin yang amat peduli dengan pendidikan. Mengapa? Sebab, dari kepedulian itu akan lahir manusia-manusia unggul.

Adalah Kabupaten Musi Banyuasin yang kini berubah total. Meski sebagai daerah penghasil minyak dan gas cukup besar di Sumatera Selatan, dulu daerah itu merupakan daerah paling tertinggal di Sumsel. Segala ketertinggalan itu kini coba diatasi melalui pendidikan.

”Pada tahun 2002 saya menentukan anggaran pendidikan di atas 20 persen sehingga biaya sekolah, mulai SD hingga SMA negeri, swasta, dan madrasah, dapat digratiskan. Buku pelajaran juga gratis. Untuk sekolah gratis, yang harus diperhatikan adalah guru. Penolakan pertama justru datang dari guru karena mereka kehilangan pendapatan sampingan,” tutur Bupati Musi Banyuasin Alex Noerdin yang menjadi bupati sejak 2002.

Guru, kunci sukses

Alex menyadari guru adalah kunci sukses pendidikan. Maka, keputusan menggratiskan pendidikan diikuti dengan memberikan kesejahteraan kepada guru berupa uang makan Rp 6.000 per hari. Selain itu, guru juga mendapat seragam dinas, bantuan transportasi sepeda motor atau speedboat. Tidak hanya itu, para guru juga ”diberi masa depan”. Guru honorer harus bisa diangkat menjadi PNS dan mendapat kesempatan meningkatkan kemampuan melalui program Wajib Kuliah. Tahun 2006 300 guru ikut program itu, tahun 2007 sebanyak 1.800 guru, dan tahun 2008 menjadi 3.000 guru. Cita-citanya, tahun 2009 sebanyak 7.200 guru di Musi Banyuasin sudah berijazah S-1.

”Untuk membiayai program sekolah gratis, kami harus meningkatkan pendapatan daerah dan mengefisienkan pengeluaran daerah. Kami juga melobi pemerintah pusat agar bagi hasil migas lebih transparan,” kata Alex yang juga Ketua Forum Konsultasi Daerah Penghasil Migas.

Kepala Dinas Pendidikan Musi Banyuasin Ade Karyana menambahkan, anggaran pendidikan Kabupaten Musi Banyuasin tahun 2007 sebesar 22,79 persen atau Rp 341,93 miliar, sedangkan 2008 naik menjadi 24,23 persen (Rp 390,14 miliar). Peningkatan anggaran pendidikan seiring dengan peningkatan APBD dari Rp 1,5 triliun (2007) menjadi Rp 1,6 triliun (2008).

Kondisi Yogyakarta

Berbeda dengan Musi Banyuasin, Daerah Istimewa Yogyakarta yang sejak lama dikenal sebagai kota pelajar justru anggaran pendidikannya belum memadai. Kabupaten Sleman, misalnya, anggaran pendidikan tahun 2008 ”hanya” 17 persen (Rp 63,7 miliar) dari total anggaran belanja non-gaji APBD 2008. Jumlah ini meningkat 2 persen dibandingkan dengan anggaran pendidikan 2007. Jika ditambah komponen gaji guru Rp 320 miliar, alokasi anggaran pendidikan Sleman mencapai Rp 383,7 miliar (45 persen) dari APBD 2008.

”Apakah anggaran ini ideal dan mencukupi? Entahlah,” tutur Pelaksana Harian Kepala Dinas Pendidikan Sleman Sunartono.

Dia menjelaskan, Sleman memiliki 500 SD. Jika tiap SD memerlukan dana operasional Rp 8 juta per bulan, berarti diperlukan Rp 96 juta per tahun. Untuk 500 SD, jumlah anggaran itu akan habis. Hitungan itu belum termasuk SMP dan SMA. ”Anggaran pendidikan tak akan mencukupi bila semua biaya operasional sekolah dibebankan kepada pemerintah. Maka, keterlibatan masyarakat diperlukan,” lanjut Sunartono.

Pemerintah Kabupaten Sleman juga menganggarkan Rp 3,1 miliar untuk perbaikan gedung SD/MI. Jumlah ini lebih rendah daripada dana APBD untuk klub sepak bola PSS Sleman sebesar Rp 5 miliar tahun 2008.

Sementara itu, untuk Kota Yogyakarta tersedia anggaran Rp 302,238 miliar. Dari jumlah itu, anggaran terbanyak untuk gaji (PNS) dan honor (GTT/PTT) sebesar Rp 195,789 miliar. Sisanya untuk kegiatan operasional dan infrastruktur pendidikan. Besaran anggaran ini, menurut Ketua DPRD Kota Yogyakarta Arif Noor Hartanto, masih relevan. Sebab, selain pendidikan, nyaris tidak ada bidang anggaran sektor lain yang sebanding. Untuk pembangunan sarana dan prasarana perkotaan, misalnya, hanya Rp 23,215 miliar atau untuk klub sepak bola PSIM hanya Rp 5,6 miliar. Bagaimana dengan anggaran perjalanan dinas? Konon komponen ini sulit dihitung.

”Yang jelas, anggaran pendidikan yang ditetapkan di Yogyakarta sudah sesuai kebutuhan riil,” ujar Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto.

Optimalisasi anggaran

Komentar menarik ihwal anggaran pendidikan seperti diputuskan Mahkamah Konstitusi muncul dari Bupati Jembrana, Bali, I Gede Winasa. ”Tak ada relevansinya mengomentari masalah itu karena Jembrana tidak pernah berpatokan pada persentase anggaran pendidikan. Optimalisasi anggaran jauh lebih penting,” tuturnya.

Jembrana termasuk daerah yang istimewa dalam mengelola pendidikan dan kesehatan. Kabupaten di ujung barat Pulau Bali itu adalah satu dari sedikit daerah di Indonesia yang sejak tahun 2001 menggratiskan pendidikan dari SD hingga SMA/ SMK dan membebaskan dari semua bentuk pungutan serta memberikan beasiswa bagi siswa berprestasi dari sekolah swasta.

Meski pendapatan asli daerah hanya Rp 15 miliar (2007), Jembrana berani memberikan penghargaan kepada guru berupa insentif Rp 5.000 per jam (di luar tunjangan guru), bonus, dan gaji ke-14 sebesar Rp 1 juta per tahun. Guru yang ingin melanjutkan pendidikannya juga dibantu pembiayaannya oleh Pemerintah Kabupaten Jembrana.

”Bagi kami, investasi sumber daya pendidikan berada di atas segalanya,” kata Winasa.

Maka, benarlah ungkapan di awal tulisan. Berbahagialah Anda yang memiliki pemimpin yang amat peduli dengan pendidikan sebab dari sana akan lahir manusia-manusia unggul.

SYARAT SERTIFIKASI GURU “MEMAKSA” TIDAK BERTINDAK BOHONG

Agustus 22, 2008

Adalah sebuah “harga” (baca harapan) yang berharga sekali pidato Presiden RI pada tanggal 16 Agustus 2008 yang salah satu isinya bahwa anggaran pos pendidikan akan dinaikan menjadi 20%. Walau belum tentu kriteria anggaran yang masuk dalam 20% tersebut, karena masih dalam pembahasan. Ini agak sedikit bias ditengah-tengah pada beberapa departemen justru anggarannya dikurangi, jadi masih menunggu baktinya.

Terlepas dari perbincangan di atas ada harapan bagi guru yang sudah lulus sertifikasi atau yang masih dalam proses untuk memenuhi segala persyaratan untuk segera mendapat apa yang disebut gaji fungsional sebesar satu kali gaji pokok. Perlu segera sejenak melupakan dulu pengalaman yang dialami pada guru yang telah lulus tahap I sampai sekarang berhenti pemberian gaji fungsionalnya, untuk segera membangun harapan baru bahwa gaji fungsional guru yang lulus sertifikasi segera dibayar.

Kebijakan depdiknas yang akan menghargai profesionalisme guru adalah langkah yang tepat untuk mendorong peningkatan kualitas guru dan selanjutnya dapat bekerja dengan standart profesional yang tepat. Dengan begitu akan menghasilkan output lulusan yang berkualitas. Tentu dalam proses awal banyak terjadi saling tumpang tindih dalam pemenuhan segala persayatan (portopolio) misal sertifikasi yang diragukan, kebijakan guru usia tua dan muda, lama mengajarnya dan terutama strata gelar pendidikannya. Semua itu akan berpengaruh dalam kondisi kerja di sekolah, karena ada perasaan yang tua ”disepelekan” karena tidak punya strata pendidikan sarjana (S1).

Proses selanjutnya adalah persayatan pengambilan gaji, yang mungkin bagi guru PNS tidak masalah tapi bagi saudara kita yang mengabdi dan mengajar di lembaga pendidikan sekolah swasta seperti yayasan akan banyak tibul masalah. Seperti termuat dalam Kompas ed. Yogja (20 Agustus 08, hal I) bahwa persyaratannya adalah 1. jumlah mengajar minimal 24 jam/pekan, 2. nomor eegkening bank yang ditunjuk dan 3. fotokopi slip gaji. Tapi untuk suadara guru swasta yang di lembaga swasta harus melengkapi surat keterangan sebagai guru/pegawai tetap yayasan.

Sayarat yang ke-4 bagi guru swasta yang mengajar di lembaga pendidikan swasta/yayasan adalah sulit bagi yayasan mau dan mampu memenuhi persyaratan tersebut. Karena yayasan dengan menetapkan seorang pegawai sebagai pegawai tetap yayasan akan menambah beban yang besar, karena harus membayar beberapa jenis tunjangan pegawai. Di sini mulai timbul yang namanya kompromi (baca berbuat bohong) antara pihak yayasan dan pegawai untuk menghindari konsekuensi beban. Tentu banyak yayasan banyak yang tidak mau mengangkat menjadi pegawai tetap. Karena jika itu dilakukan organisasi yang fokus pada pendidikan misal Muhammdiyah yang sudah nasional saja belum tentu mampu untuk membayarnya apa lagi yang masih bersifat lokal.

Karena ini persyaratan maka pegawai tetap berusaha mencari mendapatkannya dan yayasan, maka akan ada tawar menawar antar dua belah pihak. Pegawai karena dalam posisi lemah maka pada pihak yang meminta dan yayasan pasti kuat karena tepat bekerjanya. Sehingga timbul perbuatan palsu yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh pendidikan dan yayasan pendidikan. Misal seolah-olah ditetapkan sebagai pegawai tetap, tapi tidak mendapatkan hak-hak sebagai pegawai tetap. Ini tentu merugikan pihak pegawai, karena tidak dapat hak segai pegawai tetap, tetapi ini tentu akan banyak dilakukan untuk menghindari tanggungjawab yayasan. Untuk menghindari atau mencegah itu tidak harus pernyataan atau surat keterangan pengawai tetap, cukup yayasan mengakui sebagai pegawai. (Yhy~22~08~08).

DAFTAR PERAIH NOBEL

Januari 15, 2008

DAFTAR PENERIMA HADIAH NOBEL

DAN SEJARAH HADIAH NOBEL

Penghargaan Perdamaian Nobel adalah satu dari lima Penghargaan Nobel yang diadakan atas permintaan oleh penemu dan industrialis Swedia Alfred Nobel. Penghargaan ini diberikan pada orang yang paling Baca entri selengkapnya »

ANGKA TINGGAL KELAS TINGGI, APA BODOH SISWA KITA

Januari 15, 2008

Kondisi pendidikan di Indonesia masih menyisakan keprihatinan cukup menyentuh hati dengan besarnya angka tinggal kelas (tidak naik) kelas sebesar 12,5% dari data DIKNAS (Teacher Employment and Equity Efficiency, and Quality Improvement, Kompas, 21/12/07). Program pendidikan wajib 9 tahun yang artinya setiap anak yang lahir di seluruh wilayah  Indonesia, pemerintah wajib Baca entri selengkapnya »

ARTIKEL

Januari 15, 2008

GENIUS PRIVAT SD, SMP, SMA

 Kami melayani untuk meningkatkan prestasi dan memecahkan problem belajar siswa. Fasilitasnya satu tentor untuk satu siswa, datang ke rumah siswa, waktunya menyesuaikan siswa. Hubungi  Kami  Yahya Asngari, 0274 7828060, 081804294457

NUSAGAMA

Januari 15, 2008

LEMBAGA KONSULTASI DAN BIMBINGAN BELAJAR (LKBB) MELAYANI KONSULTASI DAN BIMBINGAN UNTUK PENINGKATAN PRESTASI DAN MEMECAHKAN PROBLEM BELAJAR SISWA. FASILITAS SATU SISWA DENGAN SATU TENTOR, BAGI SISWA TK, SD, SMP, SLTA DAN UMUM.

BAGAIMANA MELEJITKAN SELURUH POTENSI KECERDASAN ANAK?

Oleh Hernowo

“Kini sedang tumbuh sebuah generasi baru yang akan mengubah dunia menjadi berbeda sama sekali dengan sebelumnya.”
DON TAPSCOTT, Growing Up Digital

Anak-anak kita akan hidup di zaman yang berbeda dengan zaman kita. Dunia terus-menerus berubah. Apa yang kita pikirkan saat ini belum tentu cocok dengan keadaan di masa datang. Kita, sebagai orangtua dan guru, tidak bisa hanya menggunakan pikiran kita untuk membawa anak-anak kita ke masa depan. Kita harus menggunakan pikiran masa depan kita dan juga pikiran mereka.

Dan…”multiple intelligences”, setidaknya, akan memberikan “peta” atau panduan kepada kita untuk menuju masa depan yang berbeda dengan masa sekarang.

“Multiple intelligences” atau kecerdasan majemuk pada dasarnya adalah sebuah konsep yang menunjukkan kepada kita bahwa potensi anak-anak kita, khususnya jika dikaitkan dengan kecerdasan, banyak sekali. Di kepala anak-anak kita minimal ada sembilan kecerdasan. Manfaat utama memahami “multiple intelligences” bukanlah untuk membuat anak-anak kita menjadi hebat. Namun konsep tersebut, paling tidak, dapat  membantu kita untuk menganggap (mempersepsi) bahwa anak-anak kita itu menyimpan potensi yang luar biasa.

Kesembilan kecerdasan itu adalah (1) word, (2) number, (3) picture, (4) music, (5) body, (6) self, (7) people, (8) nature, dan (9) existence smart. Yang (1) dan (2) biasanya dikenal dengan IQ, yang (6) dan (7) dikenal dengan EQ, dan yang (9) sering dipadankan dengan SQ.

Selama ini, ada kemungkinan, kita terlalu menganggap remeh anak-anak kita. Sebagai orang yang sudah dewasa dan kenyang makan asam garam kehidupan, kita lantas takabur bahwa anak-anak kita itu masih “hijau”, masih belum memiliki pengalaman yang kaya. Kita lantas memandang mereka sebagai manusia yang banyak memiliki kelemahan. Mungkin saja, pada saat tertentu, anak kita menunjukkan kelebihannya. Namun, kita senantiasa meletakkan kelebihan anak kita itu dalam banyak kelemahan mereka.

Akhirnya, anak-anak kita, mungkin hampir setiap hari, senantiasa kita salah-salahkan dan kita terus menganggap kekurangan mereka lebih banyak ketimbang kelebihan mereka.

“Multiple intelligences” benar-benar mengubah paradigma-lama yang menyesatkan itu. “Multiple intelligences” menawarkan seuah paradigma-baru dalam melihat anak-anak secara sangat radikal. Pertama, sekali lagi, mereka memiliki banyak sekali potensi. Kedua, ini yang mencengangkan, dalam “kenakalan” atau “kebandelan” mereka, yang kadang mengesalkan diri kita, tersimpan kelebihan-kelebihan mereka. Dan, ketiga, potensi mereka mencuat secara sangat bebas dan spontan.

Nah, bagaimana caranya agar seluruh potensi kecerdasan anak-anak kita itu dapat melejit secara hebat? Apa metode dan pendekatan yang dapat digunakan oleh para guru dan orangtua? Apakah ada strategi yang tepat untuk melejitkan semua kecerdasan itu?

Pertama, menurut konsep brain-based learning yang dirumuskan oleh Eric Jensen (lihat buku karya Jalaluddin Rakhmat, Belajar Cerdas: Belajar Berbasiskan Otak, MLC, 2005), kekuatan otak baru akan muncul secara dahsyat apabila kondisi seseorang itu berada dalam balutan emosi positif. Emosi positif adalah keadaan di mana seseorang itu berada dalam kenyamanan (bebas stres) dan senang (baca: bahagia).

Jadi, agar seorang anak itu dapat melejitkan seluruh kecerdasannya, dia harus bebas dari segala ancaman, tekanan, dan ketakutan. Kegiatan belajar-mengajar yang diselenggarakan harus memunculkan semangat dan gairah yang luar biasa. Ini bisa dideteksi dengan apakah mata anak itu berbinar-binar atau tidak. Lantas, apakah diri anak itu benar-benar terlibat di dalam kegiatan belajar tersebut atau tidak.

Kedua, menurut strategi pembelajaran bernama contextual teaching and learning (lihat buku karya Elaine B. Johnson, Contextual Teaching and Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar-Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna, MLC, 2006), agar anak didik terlibat dalam kegiatan belajar dan dapat melejitkan seluruh kecerdasannya, kegiatan belajar-mengajar tersebut harus menghadirkan makna.

Sesuatu itu menjadi bermakna apabila sesuatu itu penting dan berharga bagi diri pribadi anak didik. Jadi, apa pun materi yang ingin diajarkan kepada anak didik, materi itu harus terkait dengan pengalaman sehari-hari anak didik. Jika tidak terkait, maka kegiatan belajar itu bisa dikatakan hampa atau kosong akan makna. Dan apakah kemudian setiap pengalaman anak didik harus diperhatikan dan dikaitkan? Ya, manusia itu unik. Antara anak didik yang satu dengan anak didik yang lain itu tidak sama. Kebermaknaan belajar hanya akan muncul jika materi pelajaran disesuaikan dengan setiap keunikan anak didik.

Ketiga, menurut konsep “multiple intelligences” (lihat buku karya Laurel Schmidt, Jalan Pintas Menjadi Tujuh Kali Lebih Cerdas, Kaifa, 2004; Thomas Armstrong, Sekolah Para Juara: Menerapkan “Multiple Intelligences” di Dunia Pendidikan, Kaifa, 2005; dan Thomas R. Hoerr, Buku Kerja “Multiple Intelligences”, Kaifa, 2007), setiap kecerdasan bisa menjadi “jalan masuk” untuk membuat anak senang belajar dan memperoleh makna. Setiap anak, jika tidak cacat otaknya secara fisik, pasti dapat mengembangkan seluruh kecerdasan yang dimilikinya. Dan setiap anak, kadang, memiliki satu atau dua kecerdasan yang menonjol.

Jika anak-anak itu dapat kita layani—yaitu menemukan satu kecerdasannya yang menonjol dan kita menyampaikan materi pelajaran itu dengan menggunakan “jalur” kecerdasan menonjolnya itu—anak-anak itu akan sangat cepat belajarnya. Strategi melejitkan kecerdasan akan sangat efektif apabila kita dapat menerapkan konsep “multiple intelligences” ini. Hal ini disebabkan anak-anak akan dapat belajar secara alamiah, belajar dengan cara yang diinginkannya, apabila “multiple intelligences” ini dapat dioperasionalkan secara tepat dan benar.

Jadi, lewat ketiga cara dan strategi di atas, bukan saja IQ, EQ, dan SQ akan dapat dilejitkan; bahkan, seluruh kecerdasan anak dapat kita lejitkan.

Sumber : http://www.mizan.com/index.php?fuseaction=emagazine&id=5&fid=52, Accessed By Nusagama on 15 Januari 2008


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.